Review Super Subyektif: Dilanku 1990

 

Disclaimer: Review ini ditulis dengan sangat subyektif yaa, hahaha, sebenarnya agak muak dengan banyak nya orang nge tweet tentang Dilan, sudah banyak yang mengeluh juga, tapi tetep juga penasaran

Well, actually I am not a movie go-er at all, secara anaknya suka ketiduran kalo di bioskop, apalagi untuk action movie atau yang mikir banget macam detective atau criminalgood bye my love!

Kalopun ada beberapa film yang sanggup saya tonton secara penuh tanpa tertidur, either lupa judul inget ceritanya atau inget judul lupa cerita hahaha. Kalo film indo yang drama drama macam AADC, Sabtu Bersama Bapak, atau Critical Eleven sih ingat.

Soal Dilanku 1990, sebelumnya udah pernah baca buku nya, punya google book nya dan juga bukunya. Pas baca sih udah lupa dulu sempet baper atau nggak. Cuman kalo baca beberapa tweet dan blog beberapa orang, katanya bagus, yang sebelumnya underestimate sama pemain nya, ternyata bagus. Konon yang laki-laki mendapat bahan rayuan baru untuk perempuan dan yang perempuan merasa termakan oleh rayuan, cubit cubit pacar, dan garuk garuk kursi karena gemas dengan Dilan.

Sempat juga nanya ke teman sekantor yang seumuran sama Dilan dan teman-teman, katanya juga bagus. OKE saya jadi makin penasaran kan pengen nonton.

Maunya sih nonton sendirian, it’s not problem at all for hanging out by myself actually, tapi saya takut baper tapi ga ada kenal sama mbak mas di sebelah saat nonton sendirian, jadi saya ajak lah Kak Shalli untuk menonton bersama.

Jadi bagaimana Nit menurut mu?

  • Dari beberapa film yang ceritanya diangkat dari novel, menurut saya film ini yang paling mendekati novelnya. Tidak ada tokoh yang ditambah atau skenario cerita yang sedikit diubah. Bahkan sepertinya Pidi Baiq dan sang sutradara mencoba memvisualisasikan film ini seperti pada zamannya yaitu tahun 1990-an
  • Jadi BAPER nggak? Sama sekali enggak. Yang ada saya ngomel-ngomel kalo si DIlan lagi ngegombal.

Bodo ah, auk ah, suka suka lo, ah elah”

Hahaha. Maaf saya emang ga bisa digombalin pemirsa. Kata adik intern di kantor,            si Andra,

kebayang sih lo kalo digombalin, paling lo ketawain doang kak” EXACTLY!!!

  • Beberapa scene saya malah sedih, mungkin karena tahu kalo ending nya mereka ga akan bersama kali yaa. Yaa itu sih bukan jodoh aja, hahaha. Walopun saya kerap kali menemui beberapa kisah percintaan yang paling berkesan itu bukan dengan suami atau istri, tapi dengan mantan terindah, atau mantan gebetan terindah juga gapapa
  • Setuju sih kalo yang jadi Dilan sama Milea itu pas, sesuai umurnya, si Dilan tengilnya dapet, cuman emang tampak terlalu santun saat menggombal, tapi mungkin pada zamannya, kalo lagi ngegombal yaa santun. Milea nya kalem nya juga dapet, cantiknya dapet
  • Oh iyaa yang saya suka juga dengan film ini adalah mengajarkan kesederhanaan akan kebahagian pada masanya. Dulu mah dibeliin kerupuk setengah juga udah bahagia. Diajakin pacaran naik angkot juga bahagia. Sebab bahagia itu memang sederhana.
  • Beberapa netizen, membandingkan antara Rangga dan Dilan karena puisinya atau mungkin karena sama-sama percintaan masa masa SMA yaa? Saya sih lebih baper dengan AADC 2 yang settingnya di Jogja, ngajakin Cinta ngobrol dan berpetualang semalaman itu super bikin baper. (PS:I know I am not comparing them in apple to apple, hahhaha, OK let’s forget about this)

Maaf kalo saya sudah menambah ke-muak-kan kalian, peace!!!

Don’t forget to be a better person and keep inspiring others!

Uninstall Instagram for a while? Because Why Not?

instagram-keyboard-app-take-pictures-photos-pics-3.jpg

Pada hari itu tiba tiba kalo lihat direct message , tiba tiba saya bisa mengetahui apakah teman teman yang saya follow sedang online saat ini atau terakhir membuka instagram beberapa menit yang lalu, beberapa jam yang lalu, atau pun beberapa hari yang lalu

Dan seketika itu saya mulai kesal, walopun sebenarnya bisa saja saya atur untuk menyembunyikan informasi mengenai hal tersebut. Tidak tahu juga sih kenapa saya harus merasa kesal dengan inovasi dalam aplikasi tersebut, tapi yang jelas saya kesal. Hehehe. Allah Maha Mengetahui hambanya dan saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Ketika saya membuka Facebook, saya melihat sebuah video tentang pengalaman seseorang bercerita tentang apa yang dia rasakan saat memutuskan untuk uninstall beberapa aplikasi social media nya selama sebulan

Dia bercerita bahwa awalnya terasa berat dan mati gaya karena tidak tau mau ngapain, cuman setelah beberapa hari menjalani aktivitas tanpa social media, dia bilang hidupnya lebih produktif, tidak terdistraksi oleh notifikasi dan update soal social media

Sejak saat itu saya merasa impulsif untuk mengikuti mbak mbak yang ada didalam video itu. Yang saya ingat, hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan untuk uninstall Facebook dan Instagram. Mengapa tidak dihapus saja? Sayangnya Ainia belum sejago itu untuk sama sekali tidak exist di social media. Ya, setidaknya teman teman saya masih bisa menandai (nge-tagged) akun saya di dalam story atau dalam postingan mereka.

Saya adalah orang yang extrovert, yes, I can share a lot of things with you since we meet for the first time. Kak Grandy bilang,

“Mureh lo, sama kayak gue”

Namun, kak Shalli bilang, bukan mureh, kata positifnya adalah

“easy going”

Dulu saya termasuk orang yang ingin membagi banyak hal ke social media, terutama tentang pengalaman saya travelling, lagu yang sedang ingin didengarkan, saat saat pergi bersama teman-teman, dan lain lain. Kecuali saat saya sedih, saya tidak mau membaginya, karena memang saya tidak mau membuat teman-teman saya sedih akan kesedihan yang saya rasakan.

kalo kata Menel, “Kayak ga punya temen aja sih, curhat curhat sedih di sosmed”

Ya itu lah social medianamanya juga social media, dibuat untuk pencitraan pemilik akunnya, tentu saja hal hal yang bagusnya saja yang ditunjukkan. Ya wajar dong kalo saya posting kebahagiaan bukan kesedihan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya ingin mengendalikan diri saya untuk bergantung pada story teman teman saya.

Dan alhamdulilah sudah tiga minggu saya diet dengan yang namanya social media, apakah lebih tenang? Ya. Setidaknya saya tidak perlu melihat hal hal yang tidak saya inginkan dan tidak saya butuhkan. Saya bisa menemukan hal hal baru selain menonton instagram story.  Masih ada twitter sih, tapi ternyata nulis di blog seperti ini juga menyenangkan. Saya bisa menulis apapun tanpa dibatasi oleh 280 karakter.

Selain itu, saya juga merasa lebih dekat dengan teman-teman saya melalui Whatsapp. Saya bisa menghubungi mereka langsung, menanyakan kabar, dan mengobrol lebih berkualitas ketimbang mengetahui kabar mereka hanya melalui story story mereka.

Kadang kadang masih suka buka instagram sih lewat browser, buat lihat jadwal kajian ustadz A dan satu lain hal, tapi yaudah, kalo udah beres perlunya,  I can logged it out after that. Sempet juga sih bikin story dua kali, karena mau ucapin farewell untuk temen kantor. Abis gitu uninstall lagi.  Haha.

Dan saya pun merasa lebih baik, karena yang kita lakukan tidak semuanya harus diketahui oleh teman-teman di social media. Lakukan sesuatu karena kamu ingin melakukannya dan karena kamu ingin menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, Bukan karena ingin mendapat pujian, likes, dan comment dari teman-teman social media mu.

Mau pencitraan sama gebetan? Kalo jodoh nanti juga dia tahu kok kamu orangnya seperti apa, nanti Allah yang kasih tau jalannya, tanpa harus kamu yang membagikannya secara langsung.

Jakarta, 11 Februari 2018

“Ditulis oleh Ainia yang sedang ingin menikmati dunia nyata bukan sekedar hanya dunia maya, let’s be a better person and keep inspiring others”

What are you going to pursue in life?

Assalamualaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh,

Namanya juga anak muda ye kan, masa yang berapi-api, wkwkwkwk. Namun benar, apalagi yang namanya Ainia itu orangnya BM, iyaa banyak mau sama banyak mimpi beda tipis kan? Sampai sampai pusing sendiri, karena kebanyakan maunya. Well, saya orangnya pasti akan kepikiran kalo mau melakukan sesuatu tanpa tau apa yang akan dilakukan setelah ini? I always asking my self, what’s next? so what? 

Let say sekarang kerja di perusahaan consulting, emang mau berapa lama kerja jadi knowledge analyst? Setelah itu mau ngapain? And so on … and so on …

Walaupun saya tahu, apa yang menjadi rencana manusia, Allah SWT yang menentukan, sebagaimana tertulis dalam firman – Nya,

“But perhaps you hate a thing and it is good for you, and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah knows, while you know not.”

Surat Al Baqarah : 216

Dan saya sangat bersyukur ketika memiliki seorang teman yang satu frekuensi, kepada siapa kita belajar, tidaklah perlu memandang usia, yaa walaupun dia lebih muda, but I really got inspired with her mindset

 

Dan singkat cerita, meet up lah saya dengan adik cantik, my bebeb, Diandra Khalishah di suatu mall terkemuka di Jakarta Pusat untuk setting goals, iyaa udah macam di kantor, yang mesti set up goals PDO awal tahun (Performance Development Organization) , jangan lupa nanti ada mid year check in sama final review yaa

Okay, Kak Nit, jadi lo 2018 mau ngapain aja goalsnya?” 

Untuk 2018 sih sebenernya udah banyak to do list – to do list yang ingin dilakukan, tapi untuk long term goals nya bingung mau ngapain, secara saya banyak mau, either mau stay at BCG sampai jadi Knowledge Expert, join World Bank, or focusing on my start up

Dan Andra mulai menggiring pertanyaan,

” So, what’s your passion?”

Talking about passion, I do love sharing, I want to contribute to the society, I want to inspire others, I want to explore the world, I want to speak to the world, in global meeting/conference.

That’s the reason why I want to join the global team for World Bank, wondering that someday I can work for reducing poverty in some developing countries, contribute to enhancing sustainability, that’s what I dreamt of.

Tapi saya juga sadar, pursuing global career can bring me to farther distance from my family

So, setiap pilihan memiliki risiko, kelebihan dan kekurangan masing-masing, that’s why we need SWOT analysis then

Singkat cerita, sesampainya di rumah saya kembali memikirkan apa yang ingin saya capai dalam hidup ini, dan tadaaaa….

rabbanaatina

Yup, simple kok ternyata saya ingin bahagia baik di dunia maupun akhirat

Untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat, tentu terdiri atas beberapa hal, dan sebenarnya kalo ditilik kembali, hal hal yang dilakukan di dunia bisa dibilang untuk akhirat juga. Kenapa? Ya, bukankah kita hidup di dunia hanya sementara?

Menurut saya, untuk mencapai kehidupan yang dunia dan akhirat, kita perlu memiliki hubungan yang baik dengan 2 hal utama, yaitu

Hablu minallah dan Hablu minannas, relationship with Allah and with other human-beings

Sebab, Allah lah pencipta seluruh alam semesta beserta isinya, maka dari itu kita perlu beribadah kepada-Nya, sebagaimana  tertulis dalam Al Quran sebagai berikut

tidak-aku-ciptakan-jin-dan-manusia-kecuali-untuk-beribadah-kepadaku

Yang kedua yaitu Hablu Minannaskarena kita tidak dapat hidup di dunia ini sendirian, kita memiliki orang tua tang telah melahirkan dan membesarkan, memiliki saudara, memiliki teman dan kerabat. Dan ma dari itu, hendaknya kita berbakti kepada orang tua, berbuat baik, dan bersedekah kepada saudara dan kerabat yang memerlukan

Saya pernah mendengar ada ucapan bahwa,

Percuma beribadah kalo tidak berbuat baik kepada orang lain. Walaupun tidak beribadah, Allah akan menyayangi kita disaat kita berbuat dengan orang lain

Dan tanggapan saya mengenai hal tersebut adalah,

Benar bahwa Allah akan menyayangi orang-orang yang beramal, bersedekah dan berbuat baik terhadap orang lain, tetapi

  • Dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
  • Dengan dzikir hatimu akan menjadi tenang.
  • Dengan puasa kamu akan melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Yang terakhir, saya diingkatkan oleh sahabat saya Ersha Nuranjarsari, kurang satu Nit, hablu mina alam, ooh iyaa betul, karena kita hidup di dunia juga dari makhluk hidup lain dan dari alam juga, oleh karena itu kita harus menjaga kelestariannya.

kalo mau di breakdown lebih detail lagi kurang lebih summary nya seperti gambar di bawah ini,

 

Life Goals.jpg

Ainia’s long term life goals

 

tentunya masih perlu di detail kan lagi action plan dan to do list yang bisa di lakukan, insya Allah nanti di tulisan tulisan berikutnya yaa…

Sekian, semoga menginspirasi dan bermanfaat bagi yang membaca,

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wa barakatuh

Wish you be a better Moslem and your love to Allah will inspire others

Financial Planning in Your Early Career

banner-financial-planning

Sering merasa gaji tiap bulan kurang?

Di akhir bulan suka hutang ke teman?

Sudah setahun kerja tapi belum punya tabungan?

Walopun sempat belajar mata kuliah Financial Planning di kampus, miris adalah ketika tidak benar-benar mempraktikkan ilmu yang sudah di dapat. Teori nya sih sudah khatam. Suka share ke teman-teman, tapi sendirinya belum ahli dalam merealisasikan.

Sebelum kamu menyesal seperti saya, yang ternyata setelah setahun kerja baru mulai merealisasikan financial planning dengan benar, mungkin tips-tips ini bisa membantu.

Budget Allocation (Komposisi Pengeluaran Bulanan)

Pertama-tama alokasikan gaji yang sudah didapat dengan proporsional

Kalo menurut Ryan Filbert dalam bukunya “Menjadi Kaya & Terencana dengan Reksadana”, 

Kebutuhan hidup : Utang : Tabungan : Investasi50 : 30 : 10 : 10

Sedangkan menurut Tejasari Asad dalam buku nya “Financial Check Up! In What Stage are You?”,

Tabungan / Investasi : 10%

CIcilan Utang : 30 %

Pengeluaran Rutin : 40%

Pengeluaran Pribadi : 20&

Tapi kalo saya sendiri, lebih senang dengan mengkombinasikan keduanya,

Kebutuhan Hidup Rutin : 40%

Pengeluaran Pribadi : 10%

Tabungan : 10%

Investasi : 10 %

Utang : 30 %

Apa bedanya Kebutuhan Hidup Rutin dan Pengeluaran Pribadi?

Kalo berdasarkan Tejasari Asad, kebutuhan hidup rutin adalah kebutuhan keluarga rutin rumah tangga seperti pembayaran listrik, air, dan belanja kebutuhan pokok bulanan. Sedangkan, pengeluaran pribadi adalah kebutuhan untuk beli baju dan make up.

Kalo saya sendiri, sebagai anak kos, kebutuhan rutin saya yaitu

  • Bayar Kos
  • Laundry
  • Pulsa
  • Kebutuhan pokok bulanan (sabun, shampo, dll)
  • Makan dan Transport

Sedangkan pengeluaran pribadi yaitu

  • Baju kerja
  • Make up
  • Sepatu
  • Lain-lain (Kado teman ulang tahun, nikah, dll)

Apa bedanya Tabungan dan Investasi?

Kata Ryan Filbert, yang termasuk ke dalam tabungan yaitu Asuransi Kesehatan dan Asuransi Jiwa, sedangkan investasi yaitu deposito, saham, reksa dana, obligasi, properti, dan logam mulia.

Investasi, merupakan salah satu strategi kita untuk mencapai tujuan-tujuan dalam hidup kita, seperti mengumpulkan dana darurat, dana menikah, dana uang muka rumah, dana pendidikan, dan dana pensiun.

Tabungan, berupa asuransi, adalah upaya kita dalam memberikan proteksi atas apa yang kita miliki

Mengapa kita menyisihkan 30% untuk cicilan utang?

Mungkin sebagian dari kita yang baru memasuki dunia kerja belum memiliki cicilan hutang secara rutin. Namun, bila kamu berencana untuk membeli rumah dengan KPR, cicilan yang disyaratkan oleh Bank adalah 30%. Kalo saat ini belum punya hutang, mungkin bisa dialokasikan untuk menabung liburan bersama teman-teman.

Misalkan, gaji per bulan adalah Rp 5,000,000,- , maka alokasinya adalah sebagai berikut.

Kebutuhan Hidup Rutin (40%) : Rp 2,000,000,-

  • Bayar Kos : Rp 1,000,000,-
  • Kebutuhan sehari-hari : Rp 1,000,000,-

Pengeluaran Pribadi (10%) : Rp 500,000,-

Tabungan (10%) : Rp 500,000,-

Investasi (10%) : Rp 500,000,-

Utang (30%) : Rp 1,500,000,-

Control dan Manage Pengeluaran Secara Rutin dengan Personal money Tracker

Untuk memudahkan dalam control pengeluaran, gunakan template Personal Money Tracker Microsoft Excel, download here

Input pengeluaranmu setiap hari menjelang sebelum tidur, dengan cara ini, kamu bisa dengan mudah menganalisis pengeluaran apa saja yang harus kamu kendalikan untuk bisa lebih berhemat.

Selamat mencoba!

References :

  1. Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksadana – Ryan Filbert – 2013 – Elex Media Computindo
  2. Financial Check Up! In What Stage are You? – Tejasari Asad – 2013 – Kepustakaan Populer Gramedia

Life Elevation

Katanya menjadi lebih baik dari hari ke hari itu bukan perkara mudah, tapi beruntunglah saya memiliki teman-teman yang mengajarkan begitu banyak hal yang mendewasakan.

Seorang teman menyebutnya “Upgrading Life”, yang memiliki arti segala sesuatu yang membuat kita lebih baik, mungkin tempat tinggal yang lebih baik dan lebih nyaman, atau hal baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Seseorang mengajarkan untuk melakukan paling sedikit nya satu hal yang baru, sesederhana menjatuhkan uang koin untuk pengemis saat kita berangkat beraktivitas di pagi hari, atau menelepon orang tua di rumah yang biasanya menunggu ditelpon, sekarang kita yang mulai nelpon mereka secara rutin.

Seseorang yang lain mengajarkan untuk menilik kekurangan-kekurangan dalam diri, dan mencoba mengurangi hal tersebut paling sedikitnya satu hal setiap harinya.

Keep being a better person and always can inspiring others

Best Friend

Postingan kali ini saya tulis untuk salah sahabat terbaik saya, tidak menyangka dipertemukan saat pertama kali diterima masuk ITB, berjuang bersama selama tiga tahun kuliah di SBM, dan sampai sekarang masih berjuang bersama dalam dunia karir di tempat yang berbeda, tapi alhamdulilah masih bisa tetap terus saling memberi dukungan, doa, dan semangat satu sama lain.

Mungkin sudah terlalu banyak momen yang kita lewatkan bersama, tapi inilah beberapa yang terlintas dalam pikiran saya,

Daftar Ulang di Sabuga

Menunggu panggilan saat daftar ulang memang sesuatu sekali, sudah harus datang subuh supaya cepat bisa masuk gedung sabuga, dan duduk di dalam pun ternyata cukup membuat diri ini mengantuk. Dan di samping saya ternyata ada teman baru yang mengajak berkenalan, dengan memakai rok dan kemeja formal, seperti orang yang mau melamar kerja, ternyata namanya Ersha. Rupanya dia bukan orang yang bisa berdiam diri untuk waktu yang lama, jadilah dia mengajarkan saya bermain tepuk tangan kayak saman, tapi sampai sekarang saya juga ga bisa-bisa. Kami kemudian bertukar kontak telepon dan membuat janji untuk tinggal di asrama putri Kanayakan ITB bersama.

Asrama bareng, Kost bareng

Seperti janji saat daftar ulang, kami pun tinggal bersama di asrama kurang lebih 9 bulan, dan kost di tempat yang sama sampai lulus. Echa dengan kamarnya yang jauh lebih rapi meskipun barangnya super banyak dan lengkap. Sahabat yang pali baik, karena suka masakin sayur dan lauk kalau week end, meskipun saya suka mager pake banget kalo diajak belanja ke Pasar Simpang.

Kuliah dan Organisasi

Selama di SBM kami tidak pernah satu tutorial, dan itulah alasannya walaupun kami satu jurusan dan satu kosan tapi tetap saja kadang jarang bertemu. 80 persen organisasi yang kami ikuti pun sama, walaupun akhirnya kami pun tetap memiliki prioritas yang berbeda, Echa hampir setiap minggu ke Ciwidey dengan Satoe Indonesia nya, sedangkan saya hampir tidak pernah pulang dari studio radio kampus.

 

Conference Thailand

Meskipun kami memiliki sifat dan minat yang sangat berbeda, tapi perbedaan hadir untuk saling melengkapi. Cerita mencari sponsor pertama kali nya nge bolang ke ibukota, meskipun saya suka mengeluh diajak jalan jauh, kemana-mana minta naik taksi, pengalaman jalan mengitari monas karena mengira jalan dari Kemenparekraf ke Kemenlu itu dekat, atau jalan dari GBK sampai ke Karet. Jalan sejauh apapun ternyata tidak terasa kami lewati bersama. Hingga akhirnya, perjuangan pun terbayar saat kami mendapat kesempatan untuk mempresentasikan tugas akhir kami

Perbedaan

Berbicara soal perbedaan di antara kami tidak akan pernah habis sepertinya, berselisih pendapat tidak jarang kami alami. Saling sebel dan kesel karena kekurangan sifat diri kita masing-masing juga kerap kali, Tapi ya itu lah yang saya sebut Best Friend.

Latar belakang keluarga yang berbeda, membentuk pribadi yang berbeda pula, membuat saya belajar banyak hal. Belajar untuk lebih berjuang dan lebih bersyukur. Echa yang sama sekali tidak pernah mau kalah berkompetisi berbanding dengan karakter saya yang mudah menerima keadaan, sebagai salah satu contohnya.

Alhamdulilah, hingga saat ini kami masih bersama, walaupun masing-masingnya sedang berjuang untuk mencapai kesuksesan dalam berkarirnya. Dilema yang kami hadapi memang kesulitannya terus berkembang, but that’s what friends are for.

Semoga persaudaraan ini akan berlanjut sampai ke Jannah nya Allah

Truly friends in Work Place

download

Jeff Zalaya said in his post that,

The workplace might not be the ideal place to make close friends so instead work on nurturing the friendships that you already have and join volunteer or interest groups that make it easier to meet like-minded people

You may found his article in here

In my 30 first day, the one of lesson that I can learned is in working environment, our colleagues and friends come and go depends on their own pathway. In the office, we may work together, as part of a team, which make us feel being happy to work although in lately night. However, not such as when during study in school or university, we can play and learn everyday, with the orientation training in our first day and finally we graduated together on the graduation day.

When you start your career, you can found that everybody has their own graduation date, maybe just a month, two months, three months, or may be three years, and so on. On the way to go, some of them resign to get a better job, open business, or have family problem so they have to. We may lose where are they in the next several years, because each of us has been busy with our own job and family. Then, suddenly we meet them in a mall or in our own way to go.

In campus, I remember that almost everyday after my class was done, me and my friends like to hanging out, meet up and dinner in near campus until night has came, and we are happy to do that. Then, let’s think back to the workplace, go home in 5 pm may be feel so long to wait. Day to day, most of us go home directly from the office, we rarely have plenty time to hanging out with friends anymore, most of us has had family, spouse, and children. May be it’s kinda boring, but you have to. Therefore, week end might be the best for you to calling and meet up again with your friends in university to refresh your mind.

That’s way it’s right that we may hard to find the truly friends in our workplace