How was your solo travel experience?

Solo-travel_girl_map.jpg

Dulu tiap naik kereta entah dari Malang ke Bandung atau dari Bandung ke Malang, rasanya pengen banget turun dulu di Jogja. Iyaa, kalo udah sampai Jogja, itu artinya setengah perjalanan sudah kita lewati. Kalo naik KA Malabar berangkat jam 4 sore, kita akan sampai Jogja jam 12 malam. Lampu Stasiun Tugu lagi berkelip kelip seakan akan memanggil. Enak kali yaa, kalo bisa turun dulu, ngopi di angkringan sekitaran stasiun terus baru balik lagi ke kereta (sakkarepe dewe kamu Nit, mbok pikir sepure mbah mu a?)

Alhamdulilah, udah kerja, udah punya duit, lagi punya waktu pula, maka nikmat Allah mana lagi nak yang kamu dustakan? Kebetulan punya waktu cuti beberapa hari, bisalah dihabiskan sebelum peak season liburan akhir tahun dimulai

Booking keretalah saya dari Jakarta ke Bandung naik KA Argo Parahyangan. Lalu, dari Bandung ke Yogya naik KA Malabar. Yogya ke Solo naik KA Prameks. Solo ke Malang naik KA Malioboro.

Mungkin kalian ada yang bertanya tanya, 

Sendirian aja? Iyaa soalnya temen-temen belum pada bisa cuti, jalan-jalan sendiri kenapa tidak.

Kenapa naik kereta? karena kalo naik kereta, kita bisa lihat pemandangan yang beda-beda. Dari suasana perkotaan, kemacetan jalan di kota, gedung gedung tinggi, jemuran pakaian, hingga sawah, gunung, kuburan, dan juga ibu ibu ngerumpi, adik adik pergi ke sekolah, sampai bapak bapak lagi bersawah.  Sungguh pemandangan yang ga akan bisa dilihat kalo lagi naik pesawat.

23937de7-fb6d-4b5a-93f6-e1d37bb1f0ab

Perjalanan dari Jakarta ke Bandung

Perjalanan Jakarta Bandung dengan KA Argo Parahyangan ditempuh kurnag lebih 3 jam. Berangkat dari Stasiun Gambir jam 5 pagi, sengaja pilih duduk disamping jendela, pasang headset, menatap pemandangan, lalu dengerin lagunya Adhitya Sofyan – Naik Kereta Saja, that was the most grateful moments that I have.  Ditambah rintik-rintik hujan membasahi jendela. Ah sungguh romantis.

Perjalanan dari Bandung ke Yogyakarta

1c7e0ecc-e37b-436b-908b-392dd7968b30.jpg

Kenapa ke Bandung dulu, ga sekalian dari Jakarta? Karena aku pengennya lewat jalur KA Malabar, ngelewatin Nagreg, Ciepeundeui, Tasikmalaya. Ingin nostalgia naik kereta waktu jaman masih kuliah bareng temen-temen dari Malang.

Dulu lewat Cipeundeui digedok-gedok dedek dedek pengamen minta duit di kaca, sekarang kereta udah AC, jendelane wis ndak iso dibukak Nit, jadi udah ndak ada dedek2 minta minta

Dulu di Tasikmalaya, di tawarin rokok karokok, kopi karopi, sekarang pedagang asongan yaa sudah ndak boleh masuk kereta

Perjalanan ditempuh kurang lebih 8 jam, dari Bandung jam 4 sore dan sampai Jogja sekitar jam setengah 1 malam. Jogja saat itu juga baru saja reda dari hujan. Inginnya ngopi dulu di angkringan, tapi apa daya tubuh ini tidak sabar untuk memeluk tempat tidur. Jadi saya putuskan untuk langsung order ojek online menuju hotel dikawasan Prawirotaman.

56598338-1326-488f-a205-6a61c4b03d69

Perjalanan dari Yogyakarta ke Solo

Kalo di Malang Surabaya, ada kereta daerah yaitu KA Penataran, atau kalo di Bandung punya kereta daerah dengan tujuan Cicalengka, Majalaya, dan seterusnya. Jogja Solo juga punya Kereta Prameks, harganya cuman Rp 8,000 , perjalanan ditempuh sekitar 1 jam 15 menit.

Perjalanan dari Solo ke Malang

Sebenarnya Malang Jogja itu ada KA Express Malioboro, kereta ini terdiri atas kelas eksekutif dan Ekonomi AC plus. Sebenarnya bisa juga saya naik kereta langsung dari Jogja ke Malang, tapi karena saya ingin mampir dulu ke Solo, jadi saya berangkatnya dari Solo. Perjalanan ditempuh sekitar 7 jam.

Total Biaya Perjalanan

Jadi kalo ditotal tiket Jakarta – Bandung – Solo Malang berapa Nit?

  • KA Argo Parahyangan – Jakarta-Bandung – Rp 90.000
  • KA Malabar – Bandung-Yogyakarta – Rp 230,000
  • KA Prameks Yogyakarta-Malang – Rp 8,000
  • KA Express Malioboro – Solo-Malang – Rp 200,000

Total biaya perjalanan, Rp 580,000 , yaa ga jauh beda sama naik pesawat Jakarta-Malang, bedanya ini banyak mampir mampirnya. Hehehehe

 

Uninstall Instagram for a while? Because Why Not?

instagram-keyboard-app-take-pictures-photos-pics-3.jpg

Pada hari itu tiba tiba kalo lihat direct message , tiba tiba saya bisa mengetahui apakah teman teman yang saya follow sedang online saat ini atau terakhir membuka instagram beberapa menit yang lalu, beberapa jam yang lalu, atau pun beberapa hari yang lalu

Dan seketika itu saya mulai kesal, walopun sebenarnya bisa saja saya atur untuk menyembunyikan informasi mengenai hal tersebut. Tidak tahu juga sih kenapa saya harus merasa kesal dengan inovasi dalam aplikasi tersebut, tapi yang jelas saya kesal. Hehehe. Allah Maha Mengetahui hambanya dan saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Ketika saya membuka Facebook, saya melihat sebuah video tentang pengalaman seseorang bercerita tentang apa yang dia rasakan saat memutuskan untuk uninstall beberapa aplikasi social media nya selama sebulan

Dia bercerita bahwa awalnya terasa berat dan mati gaya karena tidak tau mau ngapain, cuman setelah beberapa hari menjalani aktivitas tanpa social media, dia bilang hidupnya lebih produktif, tidak terdistraksi oleh notifikasi dan update soal social media

Sejak saat itu saya merasa impulsif untuk mengikuti mbak mbak yang ada didalam video itu. Yang saya ingat, hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan untuk uninstall Facebook dan Instagram. Mengapa tidak dihapus saja? Sayangnya Ainia belum sejago itu untuk sama sekali tidak exist di social media. Ya, setidaknya teman teman saya masih bisa menandai (nge-tagged) akun saya di dalam story atau dalam postingan mereka.

Saya adalah orang yang extrovert, yes, I can share a lot of things with you since we meet for the first time. Kak Grandy bilang,

“Mureh lo, sama kayak gue”

Namun, kak Shalli bilang, bukan mureh, kata positifnya adalah

“easy going”

Dulu saya termasuk orang yang ingin membagi banyak hal ke social media, terutama tentang pengalaman saya travelling, lagu yang sedang ingin didengarkan, saat saat pergi bersama teman-teman, dan lain lain. Kecuali saat saya sedih, saya tidak mau membaginya, karena memang saya tidak mau membuat teman-teman saya sedih akan kesedihan yang saya rasakan.

kalo kata Menel, “Kayak ga punya temen aja sih, curhat curhat sedih di sosmed”

Ya itu lah social medianamanya juga social media, dibuat untuk pencitraan pemilik akunnya, tentu saja hal hal yang bagusnya saja yang ditunjukkan. Ya wajar dong kalo saya posting kebahagiaan bukan kesedihan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya ingin mengendalikan diri saya untuk bergantung pada story teman teman saya.

Dan alhamdulilah sudah tiga minggu saya diet dengan yang namanya social media, apakah lebih tenang? Ya. Setidaknya saya tidak perlu melihat hal hal yang tidak saya inginkan dan tidak saya butuhkan. Saya bisa menemukan hal hal baru selain menonton instagram story.  Masih ada twitter sih, tapi ternyata nulis di blog seperti ini juga menyenangkan. Saya bisa menulis apapun tanpa dibatasi oleh 280 karakter.

Selain itu, saya juga merasa lebih dekat dengan teman-teman saya melalui Whatsapp. Saya bisa menghubungi mereka langsung, menanyakan kabar, dan mengobrol lebih berkualitas ketimbang mengetahui kabar mereka hanya melalui story story mereka.

Kadang kadang masih suka buka instagram sih lewat browser, buat lihat jadwal kajian ustadz A dan satu lain hal, tapi yaudah, kalo udah beres perlunya,  I can logged it out after that. Sempet juga sih bikin story dua kali, karena mau ucapin farewell untuk temen kantor. Abis gitu uninstall lagi.  Haha.

Dan saya pun merasa lebih baik, karena yang kita lakukan tidak semuanya harus diketahui oleh teman-teman di social media. Lakukan sesuatu karena kamu ingin melakukannya dan karena kamu ingin menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, Bukan karena ingin mendapat pujian, likes, dan comment dari teman-teman social media mu.

Mau pencitraan sama gebetan? Kalo jodoh nanti juga dia tahu kok kamu orangnya seperti apa, nanti Allah yang kasih tau jalannya, tanpa harus kamu yang membagikannya secara langsung.

Jakarta, 11 Februari 2018

“Ditulis oleh Ainia yang sedang ingin menikmati dunia nyata bukan sekedar hanya dunia maya, let’s be a better person and keep inspiring others”

What are you going to pursue in life?

Assalamualaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh,

Namanya juga anak muda ye kan, masa yang berapi-api, wkwkwkwk. Namun benar, apalagi yang namanya Ainia itu orangnya BM, iyaa banyak mau sama banyak mimpi beda tipis kan? Sampai sampai pusing sendiri, karena kebanyakan maunya. Well, saya orangnya pasti akan kepikiran kalo mau melakukan sesuatu tanpa tau apa yang akan dilakukan setelah ini? I always asking my self, what’s next? so what? 

Let say sekarang kerja di perusahaan consulting, emang mau berapa lama kerja jadi knowledge analyst? Setelah itu mau ngapain? And so on … and so on …

Walaupun saya tahu, apa yang menjadi rencana manusia, Allah SWT yang menentukan, sebagaimana tertulis dalam firman – Nya,

“But perhaps you hate a thing and it is good for you, and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah knows, while you know not.”

Surat Al Baqarah : 216

Dan saya sangat bersyukur ketika memiliki seorang teman yang satu frekuensi, kepada siapa kita belajar, tidaklah perlu memandang usia, yaa walaupun dia lebih muda, but I really got inspired with her mindset

 

Dan singkat cerita, meet up lah saya dengan adik cantik, my bebeb, Diandra Khalishah di suatu mall terkemuka di Jakarta Pusat untuk setting goals, iyaa udah macam di kantor, yang mesti set up goals PDO awal tahun (Performance Development Organization) , jangan lupa nanti ada mid year check in sama final review yaa

Okay, Kak Nit, jadi lo 2018 mau ngapain aja goalsnya?” 

Untuk 2018 sih sebenernya udah banyak to do list – to do list yang ingin dilakukan, tapi untuk long term goals nya bingung mau ngapain, secara saya banyak mau, either mau stay at BCG sampai jadi Knowledge Expert, join World Bank, or focusing on my start up

Dan Andra mulai menggiring pertanyaan,

” So, what’s your passion?”

Talking about passion, I do love sharing, I want to contribute to the society, I want to inspire others, I want to explore the world, I want to speak to the world, in global meeting/conference.

That’s the reason why I want to join the global team for World Bank, wondering that someday I can work for reducing poverty in some developing countries, contribute to enhancing sustainability, that’s what I dreamt of.

Tapi saya juga sadar, pursuing global career can bring me to farther distance from my family

So, setiap pilihan memiliki risiko, kelebihan dan kekurangan masing-masing, that’s why we need SWOT analysis then

Singkat cerita, sesampainya di rumah saya kembali memikirkan apa yang ingin saya capai dalam hidup ini, dan tadaaaa….

rabbanaatina

Yup, simple kok ternyata saya ingin bahagia baik di dunia maupun akhirat

Untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat, tentu terdiri atas beberapa hal, dan sebenarnya kalo ditilik kembali, hal hal yang dilakukan di dunia bisa dibilang untuk akhirat juga. Kenapa? Ya, bukankah kita hidup di dunia hanya sementara?

Menurut saya, untuk mencapai kehidupan yang dunia dan akhirat, kita perlu memiliki hubungan yang baik dengan 2 hal utama, yaitu

Hablu minallah dan Hablu minannas, relationship with Allah and with other human-beings

Sebab, Allah lah pencipta seluruh alam semesta beserta isinya, maka dari itu kita perlu beribadah kepada-Nya, sebagaimana  tertulis dalam Al Quran sebagai berikut

tidak-aku-ciptakan-jin-dan-manusia-kecuali-untuk-beribadah-kepadaku

Yang kedua yaitu Hablu Minannaskarena kita tidak dapat hidup di dunia ini sendirian, kita memiliki orang tua tang telah melahirkan dan membesarkan, memiliki saudara, memiliki teman dan kerabat. Dan ma dari itu, hendaknya kita berbakti kepada orang tua, berbuat baik, dan bersedekah kepada saudara dan kerabat yang memerlukan

Saya pernah mendengar ada ucapan bahwa,

Percuma beribadah kalo tidak berbuat baik kepada orang lain. Walaupun tidak beribadah, Allah akan menyayangi kita disaat kita berbuat dengan orang lain

Dan tanggapan saya mengenai hal tersebut adalah,

Benar bahwa Allah akan menyayangi orang-orang yang beramal, bersedekah dan berbuat baik terhadap orang lain, tetapi

  • Dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
  • Dengan dzikir hatimu akan menjadi tenang.
  • Dengan puasa kamu akan melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Yang terakhir, saya diingkatkan oleh sahabat saya Ersha Nuranjarsari, kurang satu Nit, hablu mina alam, ooh iyaa betul, karena kita hidup di dunia juga dari makhluk hidup lain dan dari alam juga, oleh karena itu kita harus menjaga kelestariannya.

kalo mau di breakdown lebih detail lagi kurang lebih summary nya seperti gambar di bawah ini,

 

Life Goals.jpg

Ainia’s long term life goals

 

tentunya masih perlu di detail kan lagi action plan dan to do list yang bisa di lakukan, insya Allah nanti di tulisan tulisan berikutnya yaa…

Sekian, semoga menginspirasi dan bermanfaat bagi yang membaca,

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wa barakatuh

Wish you be a better Moslem and your love to Allah will inspire others

Life Elevation

Katanya menjadi lebih baik dari hari ke hari itu bukan perkara mudah, tapi beruntunglah saya memiliki teman-teman yang mengajarkan begitu banyak hal yang mendewasakan.

Seorang teman menyebutnya “Upgrading Life”, yang memiliki arti segala sesuatu yang membuat kita lebih baik, mungkin tempat tinggal yang lebih baik dan lebih nyaman, atau hal baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Seseorang mengajarkan untuk melakukan paling sedikit nya satu hal yang baru, sesederhana menjatuhkan uang koin untuk pengemis saat kita berangkat beraktivitas di pagi hari, atau menelepon orang tua di rumah yang biasanya menunggu ditelpon, sekarang kita yang mulai nelpon mereka secara rutin.

Seseorang yang lain mengajarkan untuk menilik kekurangan-kekurangan dalam diri, dan mencoba mengurangi hal tersebut paling sedikitnya satu hal setiap harinya.

Keep being a better person and always can inspiring others

Best Friend

Postingan kali ini saya tulis untuk salah sahabat terbaik saya, tidak menyangka dipertemukan saat pertama kali diterima masuk ITB, berjuang bersama selama tiga tahun kuliah di SBM, dan sampai sekarang masih berjuang bersama dalam dunia karir di tempat yang berbeda, tapi alhamdulilah masih bisa tetap terus saling memberi dukungan, doa, dan semangat satu sama lain.

Mungkin sudah terlalu banyak momen yang kita lewatkan bersama, tapi inilah beberapa yang terlintas dalam pikiran saya,

Daftar Ulang di Sabuga

Menunggu panggilan saat daftar ulang memang sesuatu sekali, sudah harus datang subuh supaya cepat bisa masuk gedung sabuga, dan duduk di dalam pun ternyata cukup membuat diri ini mengantuk. Dan di samping saya ternyata ada teman baru yang mengajak berkenalan, dengan memakai rok dan kemeja formal, seperti orang yang mau melamar kerja, ternyata namanya Ersha. Rupanya dia bukan orang yang bisa berdiam diri untuk waktu yang lama, jadilah dia mengajarkan saya bermain tepuk tangan kayak saman, tapi sampai sekarang saya juga ga bisa-bisa. Kami kemudian bertukar kontak telepon dan membuat janji untuk tinggal di asrama putri Kanayakan ITB bersama.

Asrama bareng, Kost bareng

Seperti janji saat daftar ulang, kami pun tinggal bersama di asrama kurang lebih 9 bulan, dan kost di tempat yang sama sampai lulus. Echa dengan kamarnya yang jauh lebih rapi meskipun barangnya super banyak dan lengkap. Sahabat yang pali baik, karena suka masakin sayur dan lauk kalau week end, meskipun saya suka mager pake banget kalo diajak belanja ke Pasar Simpang.

Kuliah dan Organisasi

Selama di SBM kami tidak pernah satu tutorial, dan itulah alasannya walaupun kami satu jurusan dan satu kosan tapi tetap saja kadang jarang bertemu. 80 persen organisasi yang kami ikuti pun sama, walaupun akhirnya kami pun tetap memiliki prioritas yang berbeda, Echa hampir setiap minggu ke Ciwidey dengan Satoe Indonesia nya, sedangkan saya hampir tidak pernah pulang dari studio radio kampus.

Beasiswa Orang Tua Asuh

Manusia memang tidak pernah tau skenario Tuhan, tidak menyangka kami pun memiliki orang tua asuh yang sama, yaitu Pak Hariono, pemilik restaurant Midori, Resto Ngalam, dan Bersih Sehat. Dan hingga kini kami masih bersama menjadi anak asuhnya, alhamdulilah kami diberikan tempat selama meniti dan mengawali karir di Jakarta

Conference Thailand

Meskipun kami memiliki sifat dan minat yang sangat berbeda, tapi perbedaan hadir untuk saling melengkapi. Cerita mencari sponsor pertama kali nya nge bolang ke ibukota, meskipun saya suka mengeluh diajak jalan jauh, kemana-mana minta naik taksi, pengalaman jalan mengitari monas karena mengira jalan dari Kemenparekraf ke Kemenlu itu dekat, atau jalan dari GBK sampai ke Karet. Jalan sejauh apapun ternyata tidak terasa kami lewati bersama. Hingga akhirnya, perjuangan pun terbayar saat kami mendapat kesempatan untuk mempresentasikan tugas akhir kami

Perbedaan

Berbicara soal perbedaan di antara kami tidak akan pernah habis sepertinya, berselisih pendapat tidak jarang kami alami. Saling sebel dan kesel karena kekurangan sifat diri kita masing-masing juga kerap kali, Tapi ya itu lah yang saya sebut Best Friend.

Latar belakang keluarga yang berbeda, membentuk pribadi yang berbeda pula, membuat saya belajar banyak hal. Belajar untuk lebih berjuang dan lebih bersyukur. Echa yang sama sekali tidak pernah mau kalah berkompetisi berbanding dengan karakter saya yang mudah menerima keadaan, sebagai salah satu contohnya.

Alhamdulilah, hingga saat ini kami masih bersama, walaupun masing-masingnya sedang berjuang untuk mencapai kesuksesan dalam berkarirnya. Dilema yang kami hadapi memang kesulitannya terus berkembang, but that’s what friends are for.

Semoga persaudaraan ini akan berlanjut sampai ke anak cucu kami.

Truly friends in Work Place

download

Jeff Zalaya said in his post that,

The workplace might not be the ideal place to make close friends so instead work on nurturing the friendships that you already have and join volunteer or interest groups that make it easier to meet like-minded people

You may found his article in here

In my 30 first day, the one of lesson that I can learned is in working environment, our colleagues and friends come and go depends on their own pathway. In the office, we may work together, as part of a team, which make us feel being happy to work although in lately night. However, not such as when during study in school or university, we can play and learn everyday, with the orientation training in our first day and finally we graduated together on the graduation day.

When you start your career, you can found that everybody has their own graduation date, maybe just a month, two months, three months, or may be three years, and so on. On the way to go, some of them resign to get a better job, open business, or have family problem so they have to. We may lose where are they in the next several years, because each of us has been busy with our own job and family. Then, suddenly we meet them in a mall or in our own way to go.

In campus, I remember that almost everyday after my class was done, me and my friends like to hanging out, meet up and dinner in near campus until night has came, and we are happy to do that. Then, let’s think back to the workplace, go home in 5 pm may be feel so long to wait. Day to day, most of us go home directly from the office, we rarely have plenty time to hanging out with friends anymore, most of us has had family, spouse, and children. May be it’s kinda boring, but you have to. Therefore, week end might be the best for you to calling and meet up again with your friends in university to refresh your mind.

That’s way it’s right that we may hard to find the truly friends in our workplace

The Choices

choices

Based on my experience, there are some types of choices that we would met in daily.

Sometimes we meet some happy choices, all of them are nice to us. then we confused about choose one, because we want choose them all. Then, you would also faced with the mix choices, certainly we would choose the good one, and leave  the bad one. How about choose unhappy choices? No one of choice we wanna choose actually, but we still have to.

choice

So, how to choose the best one? There are several things which you may considered?

The risks or the consequences of each

Each choice has their own risks. We should identify what is the risk that we possible met, and calculate where is the less risk, or which is the acceptable risk for us.

risk

Our passion

Choose based on our passion is the easiest. We just looking for what are the choices which make us very happy. Some said that it would be better if “Do what you love and Love what you do”

passion

The chances

We could also considering about the chance about getting that choice. Sometimes the choices not come yet, but we should think about it in design a plan. We should calculate about the possibility of our chance to having those choice. The higher chance would the better one.

chance

The profitability

Every choice may give us the benefit, then we should consider about how much profitable to us. The higher benefit, certainly makes my life well. We may starts to begin from identifying what are the good impact when we choose each of them.

profit

The opportunity cost

The loss may not come from the choice itself, but from the other choice which we don’t gonna choose. When we choose one, it means we will trough the other one. How much opportunity which we should pay when leaving a choice? It would be opportunity cost.

opportunity cost

After you make effort to find the best one in your logical, don’t forget to ask your God, what is the better one. Then, you would more confident with your choice, and ready to get the all consequences. Let’s try.