Review Super Subyektif: Dilanku 1990

 

Disclaimer: Review ini ditulis dengan sangat subyektif yaa, hahaha, sebenarnya agak muak dengan banyak nya orang nge tweet tentang Dilan, sudah banyak yang mengeluh juga, tapi tetep juga penasaran

Well, actually I am not a movie go-er at all, secara anaknya suka ketiduran kalo di bioskop, apalagi untuk action movie atau yang mikir banget macam detective atau criminalgood bye my love!

Kalopun ada beberapa film yang sanggup saya tonton secara penuh tanpa tertidur, either lupa judul inget ceritanya atau inget judul lupa cerita hahaha. Kalo film indo yang drama drama macam AADC, Sabtu Bersama Bapak, atau Critical Eleven sih ingat.

Soal Dilanku 1990, sebelumnya udah pernah baca buku nya, punya google book nya dan juga bukunya. Pas baca sih udah lupa dulu sempet baper atau nggak. Cuman kalo baca beberapa tweet dan blog beberapa orang, katanya bagus, yang sebelumnya underestimate sama pemain nya, ternyata bagus. Konon yang laki-laki mendapat bahan rayuan baru untuk perempuan dan yang perempuan merasa termakan oleh rayuan, cubit cubit pacar, dan garuk garuk kursi karena gemas dengan Dilan.

Sempat juga nanya ke teman sekantor yang seumuran sama Dilan dan teman-teman, katanya juga bagus. OKE saya jadi makin penasaran kan pengen nonton.

Maunya sih nonton sendirian, it’s not problem at all for hanging out by myself actually, tapi saya takut baper tapi ga ada kenal sama mbak mas di sebelah saat nonton sendirian, jadi saya ajak lah Kak Shalli untuk menonton bersama.

Jadi bagaimana Nit menurut mu?

  • Dari beberapa film yang ceritanya diangkat dari novel, menurut saya film ini yang paling mendekati novelnya. Tidak ada tokoh yang ditambah atau skenario cerita yang sedikit diubah. Bahkan sepertinya Pidi Baiq dan sang sutradara mencoba memvisualisasikan film ini seperti pada zamannya yaitu tahun 1990-an
  • Jadi BAPER nggak? Sama sekali enggak. Yang ada saya ngomel-ngomel kalo si DIlan lagi ngegombal.

Bodo ah, auk ah, suka suka lo, ah elah”

Hahaha. Maaf saya emang ga bisa digombalin pemirsa. Kata adik intern di kantor,            si Andra,

kebayang sih lo kalo digombalin, paling lo ketawain doang kak” EXACTLY!!!

  • Beberapa scene saya malah sedih, mungkin karena tahu kalo ending nya mereka ga akan bersama kali yaa. Yaa itu sih bukan jodoh aja, hahaha. Walopun saya kerap kali menemui beberapa kisah percintaan yang paling berkesan itu bukan dengan suami atau istri, tapi dengan mantan terindah, atau mantan gebetan terindah juga gapapa
  • Setuju sih kalo yang jadi Dilan sama Milea itu pas, sesuai umurnya, si Dilan tengilnya dapet, cuman emang tampak terlalu santun saat menggombal, tapi mungkin pada zamannya, kalo lagi ngegombal yaa santun. Milea nya kalem nya juga dapet, cantiknya dapet
  • Oh iyaa yang saya suka juga dengan film ini adalah mengajarkan kesederhanaan akan kebahagian pada masanya. Dulu mah dibeliin kerupuk setengah juga udah bahagia. Diajakin pacaran naik angkot juga bahagia. Sebab bahagia itu memang sederhana.
  • Beberapa netizen, membandingkan antara Rangga dan Dilan karena puisinya atau mungkin karena sama-sama percintaan masa masa SMA yaa? Saya sih lebih baper dengan AADC 2 yang settingnya di Jogja, ngajakin Cinta ngobrol dan berpetualang semalaman itu super bikin baper. (PS:I know I am not comparing them in apple to apple, hahhaha, OK let’s forget about this)

Maaf kalo saya sudah menambah ke-muak-kan kalian, peace!!!

Don’t forget to be a better person and keep inspiring others!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s